Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman : "Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13 : 5)
Kata CUKUP menjadi kata yang langka dan aneh akhir-akhir ini. Orang lebih senang memakai dan meminta LEBIH atau "LAGI dan LAGI". Cukup itu sepertinya kurang, tidak puas, susah membagi-baginya atau tidak enak ngolahnya. Enak ngolah yang banyak dan melimpah, bisa senang-senang, shopping sebebasnya, bisa beli barang macam-macam dan banyak kesenangan lainnya.
"AFFLUENZA" penyakit kerakusan/ketamakan, yaitu sikap materialistis yang menekankan bahwa tujuan utama hidup ini adalah mendapatkan lebih banyak uang dan harta. Penyakit ini, sekarang sedang menggorogoti kita dan sudah merasuki dan merusak hampir semua sendi-sendi kehidupan dunia ini. Tanda-tandanya : 1) Korupsi kecil maupun besar terjadi di level atas maupun bawah. Baik di tingkat pejabat negara hingga ke kondektur. 2) Konsumerisme, padatnya pusat-pusat perbelanjaan di desa maupun di kota. Manusia membeli lebih dari apa yang diperlukan. Gila belanja, tingginya pemakaian kartu kredit, dll.
Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata cukup !. Dunia orang mati, dan rahim yang mandul, dan bumi yang tidak pernah puas dengan air, dan api yang tidak pernah berkata cukup. Singkatnya adalah, orang yang tamak dan rakus itu seperti Lintah yang tak pernah berkata cukup dan seperti Api yang melahap apapun.
- Kerakusan membutakan kita untuk melihat apa yang terpenting dalam hidup, yakni ketergantungan pada Tuhan
- Kerakusan juga membutakan kita akan kebutuhan orang lain.
- Kerakusan pada akhirnya akan menghancurkan kita.
Menurut Bishop Solomon, ada 2 macam kerakusan : 1) kerakusan untuk mendapatkan apa yang kita tidak miliki. 2) kerakusan untuk mempertahankan (tanpa kerelaan berbagi) apa yang kita punya. Dalam kedua macam kerakusan ini, orang percaya mengimani bahwa : semakin kita menyimpannya semakin kita merasa harus mempertahankannya. Semakin kita memberinya, semakin kita mudah mendapatkannya kembali.
Obat penawar penyakit kerakusan dan tips untuk mengatakan cukup adalah : mengucap syukur dalam segala hal dan kerelaan berbagi. (baca 1 Tes. 5:18). Namun ada 2 hal yang sering membuat kita tidak mampu bersyukur : 1) sering fokus pada apa yang kita inginkan, bukan pada yang sudah kita miliki. 2) sering membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.
Kerelaan berbagi (memberi) menerima bahagia, tetapi memberi akan lebih berbahagia. (Kis. 20;35 : adalah lebih bahagia memberi daripada menerima).
Yesus menjanjikan kepada kita dalam Luk. 6 : 38 : Berilah dan kamu akan diberi. Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar, akan dicurahkan kedalam ribaanmu. "Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu." Apalagi kalau kita memberi bukan karena diminta, maka Tuhan-pun akan berlaku sama kepada kita : memberi tanpa kita minta.
Apakah Tuhan melarang kita menjadi kaya ??? tentu tidak. Allah menyediakan segalanya untuk manusia agar manusia berusaha dan menjadi kaya. Tuhan mau agar kita menerima banyak berkat agar kita juga banyak memberkati orang lain. Bagaimana caranya ?? Tentu menurut cara dan jalan yang Tuhan kehendaki. Dalam Perjanjian Baru, Yohanes Pembabtis dengan lantang menyerukan bahwa pertobatan mesti ditandai dengan perubahan perilaku yakni tidak mengambil sesuatu lebih dari yang sudah ditentukan. "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan...." dan lagi dikatakan : "jagan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu (Luk. 3:13-14).
Apakah kita mengingat pemuda kaya dalam Markus 10 : 17 - 27 yang berlari menemui Yesus serta bertanya : Guru yang baik, apa yang harus saya lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal ??.......". Masalahnya, bukanlah kekeyaan itu, melainkan cinta akan kekayaan, cinta akan uang, itulah yang tidak Tuhan kehendaki. Sebab ada tertulis dalam 1 Tim. 6 : 10 : "Akar segala kejahatan adalah Uang"
Marilah ! ciptakan gaya hidup yang sehat dan membahagiakan yaitu : Bersyukur dan berbahagia dengan kecukupan yang kita punya. Jangan iri melihat orang kaya dan yang bergelimang harta. Syukurilah apa yang ada dan yang kita miliki sekarang. Seringkali Allah menggandakan yang secukupnya itu untuk memenuhi segala kebutuhan kita, hanya bila kita percaya kepada-Nya !
SECUKUPNYA DIDALAM TUHAN ADALAH KELIMPAHAN, SEBANYAKNYA DILUAR TUHAN ADALAH KEHANCURAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar